Lensa Biroe

Mitra Terpercaya

Pringsewu

Masalah Klasik Hama Tikus, Masih Menjadi Momok Petani Padi Pringsewu.

Pringsewu—Masalah klasik dalam budidaya padi yakni serangan hama tikus sawah (Rattus argentiventer) masih menghantui petani padi di Pringsewu pada masa tanam utama atau masa tanam rendengan ini

Bahkan kekhawatiran petani padi sawah terhadap serangan hama tikus ini, yakni akan kurang maksimalnya hasil panen mendatang.

Seperti yang diungkapkan salah seorang petani padi di Pekon Sidoharjo, Kecamatan Pringsewu, yang bernama Sarji, menurutnya, hama tikus saat ini semakin sering menyerang tanaman padi petani setempat.

Berbagai upaya dilakukan petani di Pekon Sidoharjo, untuk membasmi hama tikus tersebut, namun petani tetap kewalahan karena banyaknya hama tikus yang bersarang diareal persawahan mereka.

Upaya yang paling efektif saat ini dalam membasmi hama tikus sawah tersebut yaitu dengan pemasangan racun tikus, namun serangan tikus masih saja berlangsung, karena memang populasinya banyak, terlihat dari banyak lubang lubang sarang tikus di sekitaran sawah.

“Salah satu cara yang masih efektif melalui pemasangan racun tikus sawah jenis pospit, tapi tetap kewalahan karena sudah banyak populasi tikus ini, ” kata Sarji (02/03/2021).

Untuk pembasmian lebih diharapkan keberhasilannya adalah melalui gropyokan atau secara bergotong royong membasmi sarang sarang tikus secara manual dan tikus diburu.

Namun untuk mengaktifkan kembali sistem pembasmian tikus dengan gropyokan ini kesulitan dalam mengumpulkan para petani, karena kesibukan masing masing petani diluar bersawah.

“Memang bagusnya dilakukan pembasmian dengan cara gropyokan yaitu gotong royong seluruh petani sawah berburu tikus, semua lubang datang dibongkar atau diasap, ada tikusnya langsung dibasmi saat itu juga. Yakin cara seperti itu lebih berhasil, tapi kendalanya untuk mengumpulkan petani padi disini sangat sulit, karena masing masing ada kesibukan sendiri, ada yang berdagang di pasar ada yang berkerja, dan sebagainya, ” ujar Sarji.

Sarji menambahkan, untuk berkurangnya serangan hama tikus belum ada tandan tandanya, sebab hewan pengerat ini justru sedang rakus rakusnya makan, sebelum beranak. Jika sudah beranak atau sudah habis masa kawin tikus dan berkembang, secara alami serangan mereda.

“Khawatir hasil panen pada masa tanam rendengan ini kurang maksimal, seperti yang sudah sudah penyusutan hasil panen bisa mencapai 20-40 persen. Seperti satu hektare sawah kalau tidak ada gangguan hama tikus ataupun yang lainnya, bisa menghasilkan satu ton padi, tapi kalau ada serangan tikus bisa hanya enam atau delapan kwintal saja hasil panen, ” imbuhnya. (AdriLB).

 

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *